26 July 2026 | Admin SMA KERTAJAYA SURABAYA
Di tengah kesibukan mengajar dan mendampingi siswa setiap hari, saya menemukan cara sederhana untuk menjaga keseimbangan hidup. Bukan hanya melalui perjalanan ke berbagai tempat atau alunan musik yang menenangkan, tetapi juga lewat suara kok yang beradu dengan raket di lapangan bulu tangkis.
Bagi saya, bulu tangkis bukan sekadar olahraga. Di balik setiap ayunan raket, tersimpan kisah tentang mimpi, semangat, dan cara menemukan kembali energi setelah menjalani rutinitas sebagai seorang pendidik.
Kecintaan saya pada bulu tangkis tumbuh sejak kecil. Setiap kali menyaksikan pertandingan di televisi, dari era para legenda hingga pemain-pemain muda yang bersinar saat ini, selalu muncul perasaan yang sama: kagum sekaligus bersemangat. Saat itu, saya pernah menyimpan impian untuk menjadi seorang atlet bulu tangkis profesional.
Namun, perjalanan hidup membawa saya ke arah yang berbeda. Alih-alih berdiri di podium juara, kini saya berdiri di depan kelas sebagai seorang guru. Meski demikian, kecintaan terhadap bulu tangkis tidak pernah benar-benar pergi. Mimpi masa kecil itu tetap hidup, hanya dalam bentuk yang berbeda.
Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang ringan. Setiap hari, tenaga dan pikiran saya curahkan untuk mendidik, membimbing, dan memikirkan masa depan peserta didik. Di tengah tanggung jawab tersebut, lapangan bulu tangkis menjadi tempat saya melepas penat sekaligus mengisi kembali semangat yang terkuras.
"Bermain bulu tangkis membuat saya merasa lebih
segar dan bahagia. Setelah seharian mengajar, berada di lapangan seperti
memberi ruang untuk bernapas."
Tak hanya menjadi sarana olahraga, lapangan bulu tangkis juga menjadi ruang bagi saya untuk kembali menjadi diri sendiri. Di sana, saya tidak sedang memeriksa tugas atau menyusun perangkat pembelajaran. Saya hanyalah seseorang yang menikmati permainan, tertawa bersama teman-teman, dan berusaha memenangkan setiap reli dengan penuh semangat.
Hobi tersebut juga menjadi cara bagi saya untuk
memberikan teladan kepada siswa. Menurut saya, menjaga kesehatan fisik dan
mental sama pentingnya dengan meraih prestasi akademik. Seorang guru yang sehat
dan bahagia akan lebih mudah menciptakan suasana belajar yang positif di kelas.
Pengalaman itu membuat saya percaya bahwa setiap orang perlu memiliki ruang untuk menyalurkan minat dan kegemarannya. Kesibukan pekerjaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk meninggalkan hobi yang dicintai.
Mungkin saya tidak menjadi atlet profesional seperti
yang pernah saya impikan. Namun, saya tetap bisa menjaga semangat itu tetap
hidup melalui hal-hal yang saya sukai.
Melalui bulu tangkis, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar. Terkadang, kebahagiaan hadir dari hal sederhana: bergerak, berkeringat, dan menikmati setiap proses dengan penuh semangat.
Karena bagi saya, hidup layaknya sebuah pertandingan
bulu tangkis. Ada tantangan yang harus dihadapi, ada kegagalan yang harus
diterima, dan ada kemenangan yang patut disyukuri. Yang terpenting bukanlah
seberapa cepat mencapai garis akhir, melainkan bagaimana tetap bertahan dan
berjuang hingga poin terakhir.